Lewati ke konten
Situs informasi independen dan bukan situs resmi pemerintah.

Cegah Stunting di Sumut! Gizi Seimbang dan Pemantauan Tumbuh Kembang Jadi Kunci

Masalah gizi dan stunting di Sumatera Utara masih menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus memperkuat berbagai program agar anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan tumbuh secara optimal.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Sumatera Utara tercatat 22 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 19,8 persen. Pemerintah Sumut menargetkan angka tersebut turun menjadi 18,5 persen pada 2026 dan terus ditekan hingga di bawah 14 persen pada 2029.

Mengapa Stunting Perlu Dicegah Sejak Dini?

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada periode penting 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Periode tersebut dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada fase ini, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga kebutuhan gizi dan kesehatan harus diperhatikan secara serius.

Karena itu, pencegahan stunting tidak dapat dimulai ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Upaya pencegahan perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, hingga anak memasuki usia balita.

Gizi Ibu Hamil Tidak Boleh Diabaikan

Kesehatan anak sangat berkaitan dengan kondisi ibu selama kehamilan. Ibu hamil perlu mendapatkan makanan bergizi, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Pemerintah Sumut juga memperkuat pemeriksaan antenatal care atau ANC. Selain itu, pemberian tablet tambah darah dan makanan tambahan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis menjadi bagian dari intervensi pencegahan stunting.

Pemeriksaan kehamilan juga membantu tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan perkembangan janin. Dengan pemeriksaan rutin, masalah kesehatan dapat diketahui lebih awal.

ASI Eksklusif untuk Bayi

Setelah bayi lahir, pemberian ASI menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi.

Kementerian Kesehatan menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, ASI tetap dapat dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI sesuai usia dan kebutuhan anak.

Di Sumatera Utara, pemberian ASI eksklusif bagi bayi berusia di bawah enam bulan mencapai 83,3 persen pada 2026, lebih tinggi dari target nasional sebesar 76 persen.

MPASI Harus Beragam dan Bergizi

Setelah anak berusia enam bulan, kebutuhan nutrisi semakin meningkat. Pada tahap ini, orang tua perlu memberikan makanan pendamping ASI yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Sumber protein hewani seperti ikan, telur, ayam, dan daging dapat menjadi bagian dari menu anak. Selain itu, makanan juga perlu dilengkapi sumber karbohidrat, sayuran, buah, serta zat gizi lainnya.

Pemberian makanan sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Jika orang tua memiliki pertanyaan mengenai menu atau jumlah makanan, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu.

Pantau Berat dan Tinggi Badan Anak

Salah satu langkah sederhana untuk mengetahui perkembangan anak adalah melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin.

Orang tua dapat membawa anak ke Posyandu atau Puskesmas untuk melakukan penimbangan dan pengukuran. Hasil pemantauan tersebut dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai tahapan usianya.

Pada 2026, Pemerintah Sumut melaporkan pemantauan pertumbuhan telah menjangkau sekitar 696.183 balita atau 90 persen dari total 768.408 balita.

Jika terdapat tanda pertumbuhan yang tidak sesuai, masalah tersebut dapat segera dikonsultasikan dan ditindaklanjuti.

Imunisasi Juga Mendukung Pertumbuhan Anak

Pemenuhan gizi perlu berjalan bersama dengan perlindungan terhadap penyakit. Infeksi yang berulang dapat memengaruhi kondisi kesehatan dan pertumbuhan anak.

Karena itu, orang tua perlu memastikan imunisasi anak sesuai jadwal. Pemerintah juga memasukkan imunisasi sebagai salah satu intervensi penting dalam periode 1.000 HPK.

Puskesmas dan Posyandu dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi mengenai jadwal imunisasi serta layanan kesehatan anak.

Sanitasi dan Air Bersih Ikut Berpengaruh

Pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan. Kondisi lingkungan juga memiliki peran penting.

Sumatera Utara masih menghadapi tantangan dalam akses sanitasi dan air bersih. Pada 2026, pemerintah daerah mencatat masih terdapat 134.434 jamban tidak layak dan 94.088 sumber air tidak layak di 33 kabupaten/kota.

Lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi. Karena itu, keluarga perlu memastikan ketersediaan air bersih, menggunakan jamban sehat, membuang sampah dengan benar, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah.

Pencegahan Stunting Membutuhkan Peran Keluarga

Pencegahan stunting bukan hanya tugas ibu. Ayah, keluarga, kader Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat juga memiliki peran.

Kementerian Kesehatan pada 2026 menekankan pentingnya keterlibatan Ayah Siaga dalam mendukung kesehatan dan gizi anak selama periode 1.000 HPK.

Ayah dapat membantu dengan mendampingi ibu melakukan pemeriksaan kehamilan, memastikan kebutuhan makanan bergizi terpenuhi, membawa anak ke Posyandu, serta ikut memantau perkembangan anak.

Puskesmas Jadi Tempat Penting untuk Pemantauan

Puskesmas memiliki peran penting dalam pencegahan stunting melalui pelayanan kesehatan dasar. Masyarakat dapat memanfaatkan Puskesmas untuk konsultasi gizi, pemeriksaan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, serta edukasi kesehatan.

Kemenkes juga terus memperkuat layanan primer agar Puskesmas mampu memberikan pelayanan yang lebih lengkap dan mendukung penanganan stunting di masyarakat.

Dengan memanfaatkan layanan kesehatan sejak dini, masalah gizi dapat lebih cepat ditemukan dan ditangani.

Bersama Cegah Stunting di Sumatera Utara

Penurunan stunting membutuhkan kerja bersama dan dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah Sumut saat ini memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan BKKBN, Puskesmas, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan keluarga.

Bagi masyarakat, langkah pencegahan dapat dimulai dari rumah. Penuhi gizi keluarga, berikan ASI sesuai anjuran, siapkan MPASI bergizi, lengkapi imunisasi, pantau pertumbuhan anak, serta jaga sanitasi dan air bersih.

Dengan kebiasaan tersebut, keluarga ikut mengambil bagian dalam mewujudkan anak Sumatera Utara yang sehat, tumbuh optimal, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Disclaimer kesehatan: Informasi pada situs ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran langsung dari tenaga kesehatan.