Gizi anak menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan. Perhatian terhadap gizi tidak hanya dilakukan ketika anak mengalami masalah berat badan.
Sejak masa bayi, kebutuhan nutrisi berubah mengikuti pertumbuhan. Karena itu, pola pemberian makan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
WHO memperkirakan sekitar 150 juta anak balita di dunia mengalami stunting pada 2024. Stunting merupakan kondisi ketika tinggi badan anak terlalu rendah dibandingkan usianya berdasarkan standar pertumbuhan WHO.
Di Indonesia, hasil SSGI 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024. Namun, pemerintah masih menempatkan pencegahan stunting sebagai prioritas.
Mengapa Gizi Anak Penting untuk Mencegah Stunting?
Stunting tidak terjadi hanya karena satu faktor.
Masalah pertumbuhan dapat berkaitan dengan asupan gizi, infeksi, kondisi ibu, lingkungan, serta berbagai faktor sosial dan kesehatan.
Karena itu, gizi anak perlu diperhatikan bersama dengan pemantauan pertumbuhan dan kesehatan secara rutin.
WHO menyebut stunting pada masa kanak-kanak dapat berkaitan dengan dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik dan kognitif serta kesehatan.
Pencegahan juga perlu dilakukan sejak awal kehidupan, bukan ketika anak sudah mengalami gangguan pertumbuhan.
ASI Eksklusif Enam Bulan Tetap Penting
Pada enam bulan pertama, WHO dan UNICEF merekomendasikan bayi mendapatkan ASI eksklusif.
ASI dianjurkan dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran dan diberikan secara eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah usia enam bulan, makanan pendamping mulai diperkenalkan sambil melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
ASI menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan bayi pada periode awal kehidupannya.
Jika ibu mengalami kesulitan menyusui, konsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor menyusui dapat membantu menemukan solusi yang sesuai.
Setelah Enam Bulan, Anak Membutuhkan MPASI
Ketika anak memasuki usia sekitar enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi mulai meningkat.
Pada tahap tersebut, ASI tetap diberikan. Namun, anak juga membutuhkan makanan pendamping ASI atau MPASI yang aman dan bergizi.
MPASI bukan sekadar membuat anak kenyang.
Makanan juga perlu menyediakan protein, energi, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
WHO merekomendasikan makanan pendamping mulai diberikan pada usia enam bulan dan ditingkatkan secara bertahap sesuai usia serta kemampuan anak.
Jangan Hanya Mengandalkan Nasi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap makanan anak cukup jika sudah membuat kenyang.
Padahal, gizi anak membutuhkan keberagaman makanan.
Menu dapat terdiri dari makanan pokok, sumber protein, sayuran, dan buah. Sumber protein hewani seperti telur, ikan, daging, atau ayam dapat menjadi pilihan sesuai kemampuan dan kondisi keluarga.
WHO juga menekankan pentingnya makanan yang beragam dan padat zat gizi dalam pemberian makanan pendamping.
Jadi, menu sederhana tidak masalah.
Yang penting adalah komposisinya beragam dan sesuai kebutuhan anak.
MPASI Harus Aman dan Bersih
Selain kandungan gizi, keamanan makanan juga penting.
Makanan untuk bayi dan balita perlu disiapkan dengan tangan dan peralatan yang bersih. Bahan makanan juga perlu disimpan dan diolah dengan cara yang aman.
WHO menyebut kebersihan dan penanganan makanan yang tepat sebagai salah satu prinsip penting dalam pemberian MPASI.
Kebiasaan sederhana dapat dilakukan di rumah, seperti:
- Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan.
- Menggunakan peralatan makan yang bersih.
- Menyimpan bahan makanan dengan baik.
- Memastikan makanan matang dengan sempurna.
- Tidak memberikan makanan yang sudah berubah kondisi atau kualitasnya.
Jangan Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Setiap anak dapat memiliki nafsu makan yang berbeda.
WHO menganjurkan responsive feeding, yaitu orang tua memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak. Anak didorong untuk makan, tetapi tidak dipaksa.
Suasana makan juga sebaiknya dibuat nyaman.
Orang tua dapat menemani anak makan. Berikan waktu yang cukup. Hindari menjadikan waktu makan sebagai tekanan.
Kebiasaan tersebut dapat membantu anak membangun hubungan yang lebih baik dengan makanan.
Frekuensi Makan Berubah Sesuai Usia
Kebutuhan makan anak juga berubah seiring pertumbuhan.
WHO memberikan panduan umum bahwa bayi usia 6–8 bulan dapat memperoleh makanan pendamping sekitar 2–3 kali sehari. Pada usia 9–23 bulan, frekuensinya dapat meningkat menjadi 3–4 kali sehari, dengan camilan bergizi sesuai kebutuhan.
Namun, kebutuhan setiap anak dapat berbeda.
Jika anak memiliki kondisi kesehatan atau masalah pertumbuhan tertentu, jadwal dan komposisi makanan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Pantau Pertumbuhan Anak Secara Berkala
Pemberian makanan bergizi perlu disertai pemantauan pertumbuhan.
Orang tua dapat membawa bayi dan balita ke Posyandu atau fasilitas kesehatan untuk memantau berat badan, panjang atau tinggi badan, serta perkembangan anak.
Pemantauan membantu keluarga melihat perubahan pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Jika terdapat masalah, tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pengukuran di Posyandu sebagai bagian dari upaya penurunan stunting.
Gizi Anak Bukan Hanya Tanggung Jawab Ibu
Perhatian terhadap gizi anak membutuhkan dukungan seluruh keluarga.
Ayah dapat membantu menyediakan makanan, menemani anak ke Posyandu, mendukung ibu menyusui, atau memastikan kebutuhan keluarga terkait kesehatan terpenuhi.
Anggota keluarga lainnya juga dapat membantu menciptakan lingkungan makan yang positif.
Dengan dukungan bersama, kebiasaan sehat lebih mudah dipertahankan.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki kekhawatiran tentang pertumbuhan atau pola makan anak.
Beberapa kondisi yang layak diperiksakan antara lain:
- Berat badan anak tidak bertambah sesuai pemantauan.
- Anak terus mengalami kesulitan makan.
- Anak sering sakit.
- Anak terlihat sangat lemas.
- Orang tua khawatir dengan tinggi atau berat badan anak.
- Ada perubahan pertumbuhan yang terlihat dari hasil pemantauan.
Jangan mencoba menentukan sendiri apakah seorang anak mengalami stunting hanya berdasarkan penampilan.
Penilaian pertumbuhan perlu menggunakan pengukuran dan standar yang tepat oleh tenaga kesehatan.
Puskesmas dan Posyandu Bisa Menjadi Tempat Berkonsultasi
Keluarga tidak harus menghadapi persoalan gizi sendirian.
Puskesmas dan Posyandu dapat menjadi tempat untuk memperoleh edukasi, pemantauan pertumbuhan, serta konsultasi terkait kebutuhan kesehatan anak.
Jika ditemukan masalah, tenaga kesehatan dapat memberikan saran atau melakukan tindak lanjut sesuai kondisi anak.
Karena itu, kunjungan rutin ke Posyandu atau fasilitas kesehatan sebaiknya tidak dilewatkan.
Kesimpulan
Gizi anak perlu diperhatikan sejak awal kehidupan. Setelah enam bulan, ASI tetap dapat dilanjutkan sambil memberikan MPASI yang aman, beragam, dan sesuai kebutuhan anak.
Pencegahan stunting juga tidak berhenti pada makanan.
Pemantauan pertumbuhan, kebersihan, pencegahan penyakit, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan perlu dilakukan secara bersama.
Anak tumbuh sehat dimulai dari gizi yang baik, pola asuh yang tepat, dan perhatian sejak dini.
