Gizi dan stunting Sumatera Utara masih menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan. Upaya pencegahan kini dilakukan dari berbagai sisi.
Pemerintah memperkuat layanan gizi. Selain itu, pemantauan pertumbuhan anak dan peran keluarga juga terus didorong.
Karena itu, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan saat anak sudah mengalami masalah pertumbuhan.
Stunting Masih Jadi Perhatian
Data SSGI 2024 menunjukkan prevalensi stunting di Sumatera Utara sebesar 22 persen. Pemerintah Sumut menargetkan angka tersebut turun menjadi 18,5 persen pada 2026.
Pada saat yang sama, data SIGIZIKESGA Triwulan I 2026 mencatat 17.715 balita stunting dari 729.226 balita yang sudah diukur. Cakupan pengukuran tersebut mencapai 88,86 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pemantauan pertumbuhan masih sangat penting.
Pantau Pertumbuhan Anak Secara Rutin
Pertumbuhan anak perlu dipantau sejak dini.
Orang tua dapat membawa anak ke Posyandu secara rutin. Berat badan dan tinggi badan dapat diukur.
Selain itu, perkembangan anak juga perlu diperhatikan.
Jika berat badan tidak naik atau pertumbuhan terlihat tidak sesuai, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Dengan begitu, masalah gizi dapat diketahui lebih cepat.
Protein Hewani Penting untuk Anak
Gizi anak tidak hanya soal jumlah makanan. Keragaman makanan juga penting.
Anak membutuhkan sumber protein. Telur, ikan, ayam, daging, tahu, dan tempe dapat menjadi pilihan.
Kementerian Kesehatan juga menekankan konsumsi protein hewani bagi bayi di atas enam bulan. Pemantauan pertumbuhan di Posyandu juga menjadi bagian dari pencegahan stunting.
Karena itu, orang tua dapat menyesuaikan menu dengan bahan pangan yang mudah ditemukan.
ASI Eksklusif Tetap Penting
Bayi membutuhkan perhatian khusus pada awal kehidupannya.
ASI eksklusif selama enam bulan menjadi salah satu langkah penting. Setelah usia enam bulan, ASI dapat dilanjutkan bersama MPASI.
MPASI perlu diberikan secara bertahap. Pilih bahan makanan yang beragam dan sesuai kebutuhan anak.
Di Sumatera Utara, cakupan ASI eksklusif untuk bayi di bawah enam bulan mencapai 83,3 persen pada 2026. Angka tersebut berada di atas target nasional 76 persen.
Remaja Putri Juga Perlu Diperhatikan
Pencegahan stunting sebenarnya dimulai sebelum kehamilan.
Remaja putri membutuhkan asupan gizi yang baik. Pemeriksaan dan pencegahan anemia juga penting.
Pemprov Sumut memberikan tablet tambah darah kepada remaja putri sebagai bagian dari upaya pencegahan. Hingga 2026, sebanyak 636.637 dari 815.520 remaja putri yang menjadi sasaran telah menjalani skrining.
Dengan demikian, kesehatan calon ibu perlu dipersiapkan sejak remaja.
Ibu Hamil Perlu Mendapat Perhatian
Kondisi ibu selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan bayi.
Karena itu, pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Asupan gizi juga harus diperhatikan. Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis membutuhkan pendampingan.
Di Sumatera Utara, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan KEK mencapai 87 persen hingga Juni 2026.
Posyandu Jadi Tempat Pemantauan
Posyandu memiliki peran penting dalam gizi dan stunting Sumatera Utara.
Melalui Posyandu, pertumbuhan balita dapat dipantau secara rutin. Orang tua juga dapat memperoleh edukasi mengenai makanan dan kesehatan anak.
Pemprov Sumut terus mendorong optimalisasi Posyandu sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Karena itu, kunjungan ke Posyandu sebaiknya tidak dilewatkan.
Sanitasi Juga Berpengaruh
Masalah gizi tidak hanya berkaitan dengan makanan.
Air bersih dan sanitasi juga berperan dalam kesehatan anak. Lingkungan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko infeksi.
Sumatera Utara masih memiliki persoalan sanitasi. Data pemerintah provinsi mencatat terdapat 134.434 jamban tidak layak dan 94.088 sumber air tidak layak di 33 kabupaten/kota.
Karena itu, perbaikan sanitasi menjadi bagian dari pencegahan stunting.
Puskesmas Terus Diperkuat
Puskesmas menjadi salah satu ujung tombak pelayanan gizi.
Tenaga kesehatan dapat membantu memantau pertumbuhan anak. Selain itu, Puskesmas dapat memberikan edukasi dan tindak lanjut jika ditemukan masalah.
Pemprov Sumut juga memperkuat pemantauan pertumbuhan balita. Hingga 2026, sekitar 696.183 balita atau 90 persen dari sasaran telah dipantau pertumbuhannya.
Keluarga Punya Peran Besar
Pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan.
Keluarga perlu ikut menjaga pola makan anak. Orang tua juga perlu memperhatikan kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Selain itu, ayah dan anggota keluarga lain dapat membantu memastikan anak mendapat makanan bergizi.
Dengan dukungan keluarga, kebiasaan sehat dapat diterapkan setiap hari.
Langkah Sederhana di Rumah
Ada beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan:
- Berikan makanan yang beragam.
- Sertakan sumber protein dalam menu.
- Berikan ASI sesuai anjuran.
- Berikan MPASI setelah usia enam bulan.
- Pantau berat dan tinggi badan.
- Datang ke Posyandu secara rutin.
- Jaga kebersihan air dan makanan.
- Gunakan jamban sehat.
- Konsultasikan masalah pertumbuhan ke Puskesmas.
Langkah tersebut terlihat sederhana. Namun, konsistensi sangat penting.
Cegah Stunting Sejak Dini
Gizi dan stunting Sumatera Utara membutuhkan perhatian bersama.
Pencegahan dimulai sejak remaja. Kemudian, perhatian berlanjut pada masa kehamilan, bayi, dan balita.
Pemeriksaan rutin juga tidak kalah penting. Dengan pemantauan yang baik, masalah pertumbuhan dapat diketahui lebih awal.
Karena itu, manfaatkan Posyandu dan Puskesmas di wilayah masing-masing.
Anak sehat membutuhkan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, dan pemantauan yang rutin. Mari mulai dari keluarga.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi. Kebutuhan gizi setiap anak dapat berbeda. Jika ada masalah pertumbuhan atau pola makan, konsultasikan langsung dengan tenaga kesehatan.
