MEDAN — Peningkatan kasus Influenza A di Medan mendapat perhatian DPRD Kota Medan. Pemerintah Kota Medan melalui Dinas Kesehatan diminta memperkuat langkah pencegahan agar penyebaran penyakit tidak berkembang menjadi tekanan lebih besar terhadap fasilitas kesehatan.
Sekretaris Komisi II DPRD Kota Medan H Iswanda Ramli atau Nanda Ramli mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh ruang rawat inap. Kondisi tersebut muncul ketika sejumlah rumah sakit di Medan mengalami peningkatan jumlah pasien.
Namun, kepadatan rumah sakit tidak seluruhnya dapat dikaitkan langsung dengan Influenza A. Dinas Kesehatan sebelumnya menjelaskan bahwa banyak pasien yang mendatangi IGD mengalami ISPA dan influenza-like illness (ILI), sehingga penyebab spesifiknya harus dipastikan melalui pemeriksaan.
DPRD Soroti Peningkatan Influenza A di Medan
Nanda Ramli menilai peningkatan kasus perlu mendapat perhatian serius, terutama karena laporan yang diterimanya banyak berkaitan dengan anak-anak dan lanjut usia.
Ia meminta Dinas Kesehatan Kota Medan tidak hanya mempersiapkan fasilitas untuk menangani pasien yang sudah sakit, tetapi juga meningkatkan strategi pencegahan di tengah masyarakat.
Menurutnya, langkah preventif dibutuhkan untuk mengurangi risiko penularan sekaligus mencegah lonjakan pasien yang berpotensi semakin membebani rumah sakit.
Dinkes Medan Catat 15 Kasus Influenza A
Data resmi Pemkot Medan mencatat 18 kasus influenza sepanjang Januari hingga September 2026, terdiri atas 15 kasus Influenza A dan tiga kasus Influenza B.
Angka 15 tersebut perlu dipahami sebagai jumlah kumulatif Januari–September 2026, bukan berarti seluruh 15 kasus baru muncul pada September.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Surya Syahputra Pulungan mengatakan peningkatan kasus pada September menjadi perhatian pemerintah karena Influenza A dapat menyebar dengan mudah antarmanusia.
Dinkes kemudian memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi perkembangan kasus.
Rumah Sakit Padat, tetapi Bukan Semata karena Influenza A
Kondisi kapasitas rumah sakit menjadi salah satu isu penting yang perlu dijelaskan secara hati-hati.
Dinas Kesehatan Kota Medan sebelumnya mengakui sejumlah IGD rumah sakit mengalami kepadatan. Namun, pasien yang datang banyak mengalami ISPA dan ILI, bukan seluruhnya Influenza A terkonfirmasi.
BPJS Kesehatan Cabang Medan juga memantau kepadatan IGD dan ruang rawat inap di sejumlah rumah sakit di Medan dan sekitarnya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Medan Yasmine Ramadhana Harahap mengatakan pemanfaatan layanan JKN meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Peningkatan kasus influenza disebut sebagai salah satu faktor yang ikut berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Artinya, kalimat “rumah sakit penuh karena Influenza A” sebaiknya dihindari karena terlalu menyederhanakan kondisi yang terjadi.
Dinkes Kirim Surat Kesiapsiagaan ke Puskesmas dan Rumah Sakit
Dinkes Medan telah menerbitkan surat pemberitahuan kepada seluruh puskesmas dan rumah sakit di Kota Medan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap Influenza A.
Fasilitas kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan dan melakukan skrining terhadap pasien dengan gejala tertentu.
Di puskesmas, skrining dilakukan terhadap pasien yang mengalami demam di atas 38 derajat Celsius disertai batuk dengan durasi gejala tidak lebih dari 10 hari.
Rumah sakit juga diminta melakukan skrining terhadap pasien dengan kriteria gejala tersebut yang membutuhkan perawatan inap.
Langkah itu menjadi bagian dari sistem kewaspadaan dini untuk mendeteksi kemungkinan kasus dan mengantisipasi peningkatan penularan.
RSUD Pirngadi Perketat Skrining
RSUD Dr. Pirngadi Medan termasuk fasilitas kesehatan yang meningkatkan kewaspadaan.
Rumah sakit tersebut memperkuat pengamatan terhadap pneumonia, ISPA, ILI dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) serta melakukan skrining terhadap pasien yang datang dengan gejala terkait.
Pihak RSUD Pirngadi juga menegaskan bahwa seseorang dengan gejala infeksi saluran pernapasan tidak otomatis dapat dinyatakan positif Influenza A.
Diagnosis harus berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi.
Penjelasan tersebut penting untuk mencegah masyarakat menyimpulkan bahwa setiap demam, batuk atau ISPA merupakan Influenza A.
Kasus Influenza A Sumut Juga Bertambah
Pada tingkat Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kesehatan mencatat 56 kasus Influenza A per 2 Oktober 2026.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan catatan 27 kasus pada 22 September 2026. Meski terjadi kenaikan, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Faisal Hasrimy menyatakan situasi masih terkendali.
Pengukuran atau deteksi yang dirujuk Dinkes Sumut tersedia di dua fasilitas, yakni Puskesmas Teladan Medan dan RSUD Amri Tambunan di Deli Serdang.
Data provinsi tersebut tidak boleh disamakan dengan angka Kota Medan karena cakupan wilayah dan pencatatannya berbeda.
Anak dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian
DPRD Medan menyoroti anak-anak dan lansia sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian di tengah peningkatan kasus.
Sementara Dinkes Medan secara resmi menyebut kelompok berisiko tinggi yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain lansia, masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid, serta pelaku perjalanan luar negeri.
Masyarakat juga diminta tidak panik.
Langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin serta memakai masker ketika mengalami batuk atau pilek dianjurkan untuk membantu mengurangi risiko penularan.
Jangan Abaikan Gejala Influenza
Dinkes Medan mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, lemas atau malaise, dan nyeri otot.
Pemeriksaan awal dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas.
Upaya pencegahan menjadi penting karena Influenza A mudah menyebar dari satu orang ke orang lain.
Di tengah meningkatnya kasus dan padatnya sejumlah fasilitas kesehatan, kombinasi antara skrining dini, kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit, edukasi masyarakat serta perilaku hidup bersih dan sehat menjadi langkah yang sedang diperkuat pemerintah.
Desakan DPRD Medan pun menjadi pengingat agar penanganan tidak hanya dilakukan setelah pasien memenuhi fasilitas kesehatan, tetapi juga dimulai dari pencegahan penularan di masyarakat.
