Kabar terbaru datang dari kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sejumlah pelajar sekolah dasar di Kota Medan, Sumatera Utara. Sebanyak 17 siswa yang sebelumnya mendapatkan perawatan di RS Imelda kini telah diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Kondisi 17 siswa SD di Medan usai diduga keracunan MBG tersebut disampaikan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas pada Senin, 12 Oktober 2026.
Para siswa berasal dari SD Negeri 060870 yang berada di kawasan Jalan Krakatau, Kecamatan Medan Timur. Mereka sebelumnya mengalami gangguan kesehatan berupa mual dan muntah setelah menyantap makanan dari program MBG pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Meski seluruh siswa telah keluar dari rumah sakit, Pemerintah Kota Medan meminta penyelenggara program meningkatkan pengawasan terhadap kualitas makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
17 Siswa SD di Medan Telah Diperbolehkan Pulang
Wali Kota Medan Rico Waas mengonfirmasi bahwa seluruh pelajar yang sempat menjalani penanganan medis kini sudah kembali bersama keluarga.
Keterangan tersebut menjadi perkembangan terbaru setelah sebelumnya beberapa siswa masih harus menjalani observasi dan perawatan di rumah sakit.
Pada hari pertama kejadian, sebanyak 17 siswa dibawa ke Instalasi Gawat Darurat RS Imelda Medan karena mengalami keluhan kesehatan seusai makan.
Sebagian siswa menunjukkan perbaikan kondisi lebih cepat sehingga dapat langsung dipulangkan. Sementara itu, siswa lainnya membutuhkan pemantauan tambahan oleh tenaga medis.
Perkembangan kondisi pasien menunjukkan adanya penurunan jumlah siswa yang harus menjalani perawatan hingga seluruhnya diperbolehkan pulang pada 12 Oktober 2026.
Namun, kepulangan dari rumah sakit tidak selalu berarti seluruh keluhan telah hilang sepenuhnya. Orang tua tetap perlu mengikuti petunjuk dokter dan memperhatikan kondisi anak setelah perawatan.
Kronologi Dugaan Keracunan MBG di SD Negeri 060870 Medan
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026, ketika sejumlah siswa SD Negeri 060870 mengalami keluhan mual dan muntah setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis.
Pihak sekolah bersama instansi terkait kemudian membawa siswa yang mengalami gejala ke RS Imelda Medan untuk memperoleh pemeriksaan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kota Medan Erfin Fahrurrazi turut memantau penanganan para siswa di rumah sakit.
Pada tahap awal, 11 siswa dilaporkan sudah dapat pulang, sedangkan enam lainnya masih membutuhkan observasi.
Sehari kemudian, Sabtu, 10 Oktober 2026, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Surya Syahputra menyampaikan bahwa empat siswa masih menjalani rawat inap setelah dua pasien tambahan diperbolehkan pulang.
Pada Senin, 12 Oktober 2026, pemerintah kota memastikan seluruh 17 siswa telah meninggalkan rumah sakit.
SPPG Pemasok MBG Ditutup Sementara
Setelah muncul laporan gangguan kesehatan pada siswa, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab memasok makanan ke SD Negeri 060870 Medan dihentikan sementara operasionalnya.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) wilayah Sumatera Utara, Yoga Arizanto, membenarkan adanya penutupan sementara tersebut.
Langkah itu dilakukan sebagai tindak lanjut atas kejadian yang melibatkan belasan pelajar.
Menu MBG yang disalurkan pada hari kejadian dilaporkan mencakup nasi putih, telur semur, susu, sayuran, dan buah salak.
Meski demikian, penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan daftar makanan yang disajikan. Penentuan sumber kontaminasi membutuhkan pemeriksaan dan evaluasi oleh pihak berwenang.
Pengawasan terhadap bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan pangan bagi penerima program.
Rico Waas Minta Pengawasan Makanan Diperkuat
Menanggapi peristiwa tersebut, Rico Waas memahami munculnya kekhawatiran orang tua mengenai keamanan makanan yang diterima anak-anak di sekolah.
Pemerintah Kota Medan menilai program MBG memiliki tujuan meningkatkan pemenuhan gizi peserta didik. Namun, tujuan tersebut harus diikuti pelaksanaan yang aman dan pengawasan yang memadai.
Rico meminta pihak pengelola dan pengawas SPPG meningkatkan ketelitian dalam setiap tahapan penyediaan makanan.
Pemeriksaan mutu bahan pangan, kebersihan fasilitas pengolahan, dan kepatuhan terhadap prosedur keamanan makanan menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian.
Pemerintah kota juga berharap seluruh siswa dapat kembali beraktivitas dengan baik setelah menjalani perawatan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan program pemenuhan gizi anak sekolah.
Gejala Gangguan Kesehatan Akibat Makanan Perlu Diwaspadai
Mual dan muntah merupakan beberapa keluhan yang dapat muncul pada kasus penyakit akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Gejala lain yang mungkin terjadi meliputi sakit perut, diare, demam, dan tubuh terasa lemas.
Namun, keluhan tersebut tidak selalu disebabkan oleh keracunan makanan. Infeksi saluran pencernaan dan kondisi kesehatan lainnya juga dapat menimbulkan gejala serupa.
Apabila anak mengalami muntah berulang, sulit minum, tampak sangat lemas, mengalami penurunan kesadaran, atau menunjukkan tanda dehidrasi, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.
Penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi, terutama pada anak-anak yang lebih rentan mengalami kekurangan cairan akibat muntah dan diare.
Keamanan Pangan Jadi Perhatian dalam Program MBG
Kasus dugaan keracunan MBG di Medan menegaskan pentingnya penerapan standar keamanan pangan secara konsisten.
Setiap penyelenggara makanan dalam jumlah besar perlu memastikan bahan makanan layak digunakan dan diproses dalam kondisi higienis.
Suhu penyimpanan, kebersihan peralatan, kesehatan penjamah makanan, serta ketepatan waktu distribusi turut memengaruhi keamanan makanan yang disajikan.
Selain pengawasan internal, mekanisme pelaporan keluhan dari sekolah dan orang tua juga perlu berjalan cepat agar masalah dapat segera ditangani.
Evaluasi terhadap kejadian di SD Negeri 060870 Medan diharapkan menjadi dasar perbaikan layanan sehingga siswa dapat memperoleh manfaat gizi tanpa mengabaikan keselamatan kesehatan.
Pemulihan Siswa dan Pencegahan Kejadian Serupa
Kepulangan seluruh 17 siswa SD di Medan usai diduga keracunan MBG merupakan perkembangan positif bagi keluarga dan pihak sekolah.
Namun, pemerintah dan penyelenggara program masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan keamanan makanan yang diberikan kepada peserta didik.
Peningkatan pengawasan SPPG, evaluasi prosedur pengolahan makanan, serta respons cepat terhadap keluhan kesehatan perlu menjadi perhatian bersama.
Dengan pengelolaan yang lebih ketat, program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berjalan sesuai tujuan, yakni mendukung kebutuhan gizi dan kesehatan anak-anak sekolah secara aman.
